Sudah sering mendengar istilah "
wong ndeso" yang belakangan istilah ini begitu lekat dengan komedian Tukul, si wajah ndeso rejeki kota? Karena dia memang yang kerap mengucapkan istilah wong ndeso ini untuk memperolok audiensnya dan mengolok-olok dirinya sendiri.
Cap
wong ndeso kalau dulu memang terdengar menyakitkan buat sebagian orang, karena memang istilah itu dipakai untuk olok-olok terhadap orang-orang yang gagap akan budaya perkotaan dan lebih condong untuk menyudutkan budaya dari pinggiran dengan berbagai macam asosiasi negatif seperti tidak berpendidikan, miskin, terpinggirkan secara ekonomi, atau hal-hal negatif yang lain.
Seringkali dulu kalau kita makan hanya dengan tempe-tahu, maka dicap sebagai
wong ndeso. Atau kalau kita lihat bapak-bapak sedang jalan-jalan di kota dengan pakaian ala kadarnya atau dengan asesoris khas peci hitam misalnya, maka dengan mudahnya dia akan di lirik sebelah mata sebagai
wong ndeso.
Tetapi kalau di Jakarta dan kota besar yang tak berbahasa daerah Jawa, istilah
wong ndeso ini kurang populer. Mereka lebih sering menggunakan istilah "udik", untuk menggambarkan betapa orang "udik" ini pastilah orang yang tidak pernah "makan bangku sekolahan" atau hampir dipastikan datang dari kalangan ekonomi super lemah.
No play at all, kata si Tukul, terjemahannya GA MAIN BLASS!! dalam bahasa suroboyoan.
******
Namun tahukah anda kalau dari kecerdasan finansial, para
wong ndeso ini kebanyakan lebih melek finansial dibandingkan dengan saudara-saudara mereka dari kota yang melabeli diri dengan sebutan kaum metropolis atau warga megapolitan?
Sekarang kita ambil satu contoh kasus dimana saya dapat pelajaran emas dari seorang yang benar-benar sangat
ndeso sekali.
Saya punya saudara yang tinggal nun jauh di pelosok, saking terpencilnya tempat ini sampai-sampai listrik saja baru ada di era akhir 90-an, tepatnya di daerah pinggiran kawasan meru betiri.
Di rumah saudara
ndeso saya ini, dia sempat menceritakan tentang sepeda motor barunya. Dia dengan bangga bercerita bahwa motornya baru dibeli dengan cash, tanpa kredit atau cicilan seperti kebanyakan yang dilakukan oleh orang kota. Karena bagaimana mau kredit kalau slip gaji saja tak pernah ada? Dia tidak pernah berpikir kalau di kawasan pramuka Jakarta banyak orang kota memalsukan slip gaji dan buku tabungan demi mulusnya aplikasi kredit motor/mobil mereka.
Saudara
ndeso saya ini cerita kalau orang desa ingin beli motor mereka tidak kredit degan uang dp yang seadanya, tetapi mereka beli kambing atau anak sapi lebih dulu. Lha ini apa hubungannya beli sepeda motor dengan anak sapi?
Ini analisa finansialnya.
Asumsi orang kota dan
wong ndeso sama sama punya modal Rp. 3 juta sebagai modal awal, dan mereka sama-sama bisa menyisihkan setiap bulan Rp. 500 ribu . Tantangannya mereka harus bisa membeli satu buah sepeda motor dengan kisaran harga 15 jutaan. Anda pasti bisa menebak pasti si orang kota teman kita ini pasti dengan mudahnya akan memakai modal awalnya untuk uang muka dan selebihnya dia akan mencicil dengan sisa-sisa gajinya itu, perkiraan nilai cicilannya Rp. 500 ribu - 700 ribuan, dan selama masa kredit motornya akan menjadi aset perusahaan finance pemberi kredit. Dan di akhir tahun ke tiga, motor tersebut sudah lunas. Simple dan tidak ribet kan?
Sekarang apa yang dilakukan
wong ndeso seperti saudara saya di pelosok itu? Langkah pertama, dia akan beli anakan sapi yang kisaran harganya 2-3 jutaan. Dia akan pelihara sapi ini dengan penuh cinta dan kasih sayang, karena ini adalah aset dia sendiri yang akan berkembang. Dan setiap bulan dia akan beli anakan kambing dengan budget Rp. 500 ribuan. Jadi selama satu tahun berjalan dia sudah punya aset 1 ekor sapi dewasa dengan asumsi nilai jual 4-5 jutaan plus 11 ekor kambing dengan harga rata-rata nilai jual Rp. 650 ribuan. Jadi total asset dia sudah 5 juta + ( 650,000 * 11) = Rp. 12,150,000!! Ini belum termasuk aset jika kambing-kambing dan sapinya beranak.
Nah sampai disini, dalam jangka waktu satu tahun ke dua orang tadi di minta untuk menukarkan aset yang dimiliki dari modal awal plus tunjangannya per bulan. Kita dengan mudah menebak si teman metropolis tadi pasti nilai aset sepeda motornya sudah turun dan masih ada sisa cicilan 2 tahun di bank, jadi nilai asetnya bukan berkembang tapi malah turun. Tetapi si saudara
ndeso tadi malah melenggang dengan asetnya yang sudah berkembang dan berlipat-lipat jika kambing-kambingnya bisa beranak. Sementara motor si teman kota tadi ga mungkin bisa beranak kan???
Jadi pilih mana mulai nyicil barang-barang konsumtif atau membangun asset dengan uang anda sekarang?