Sunday, June 8, 2008

Bisnis Es Krim Modal Minim

Siapa yang tidak suka dengan es krim di dunia ini?
Mungkin tidak ada, kalau pun ada kayaknya karena terpaksa tidak bisa makan es krim entah karena sakit atau alergi, atau dompet lagi kempis...

Nah kalau kita suka dengan es krim, kenapa tidak mencoba buka usaha es krim? Mulai dari yang sederhana saja dan dengan modal minim. Tapi dengan harapan untung maksim tentunya. Jadi boleh dong punya jargon Bisnis Es Krim Adem, Modal Minim Untung Maksim... Sedikit maksain ga papa deh.

Profil Mesin Es Krim:

Mesin ini bekerja dengan sangat sederhana, anda hanya perlu mencampurkan bahan baku es krim, yang sudah siap olah biasanya berupa serbuk, dengan air dalam perbandingan tertentu. Lalu biarkan mesin bekerja beberapa saat dan anda tinggal menunggu sambil berpromosi ria agar datang pembeli lebih banyak ke kios es krim anda.







Investasi dan Biaya-Biaya Rp Keterangan
Investasi awal Mesin Ice Cream 22,000,000

Bahan Ice Cream 40,000 1 bungkus = 50 cone
Cone 200


Asumsi Penjualan
100 cone per hari @ Rp. 2,000 / cone 100
Asumsi harga jual per cone 2,000
Pendapatan kotor per hari 200,000
Pendapatan kotor per bulan (30 hari) 6,000,000

Biaya Operasional per Bulan
Belanja bahan ice cream per bulan 2,400,000
Belanja cone per bulan 600,000
Sewa Tempat per bulan 300,000
Gaji Operator per bulan 400,000
Listrik per bulan 350,000
Air per bulan 25,000
Maintenance (budget) 100,000
Total Biaya per Bulan 4,175,000

Profit bersih per bulan 1,825,000
BEP Investasi mesin tercapai dalam: + - 12 bulan


Informasi Detil Hubungi Chris 0811-180344 / 021-3239 2958
atau mailto: christiyonowp@gmail.com



Selamat Menuai Untung!!

Kecerdasan Finansial ala Wong nDeso

Sudah sering mendengar istilah "wong ndeso" yang belakangan istilah ini begitu lekat dengan komedian Tukul, si wajah ndeso rejeki kota? Karena dia memang yang kerap mengucapkan istilah wong ndeso ini untuk memperolok audiensnya dan mengolok-olok dirinya sendiri.

Cap wong ndeso kalau dulu memang terdengar menyakitkan buat sebagian orang, karena memang istilah itu dipakai untuk olok-olok terhadap orang-orang yang gagap akan budaya perkotaan dan lebih condong untuk menyudutkan budaya dari pinggiran dengan berbagai macam asosiasi negatif seperti tidak berpendidikan, miskin, terpinggirkan secara ekonomi, atau hal-hal negatif yang lain.

Seringkali dulu kalau kita makan hanya dengan tempe-tahu, maka dicap sebagai wong ndeso. Atau kalau kita lihat bapak-bapak sedang jalan-jalan di kota dengan pakaian ala kadarnya atau dengan asesoris khas peci hitam misalnya, maka dengan mudahnya dia akan di lirik sebelah mata sebagai wong ndeso.

Tetapi kalau di Jakarta dan kota besar yang tak berbahasa daerah Jawa, istilah wong ndeso ini kurang populer. Mereka lebih sering menggunakan istilah "udik", untuk menggambarkan betapa orang "udik" ini pastilah orang yang tidak pernah "makan bangku sekolahan" atau hampir dipastikan datang dari kalangan ekonomi super lemah. No play at all, kata si Tukul, terjemahannya GA MAIN BLASS!! dalam bahasa suroboyoan.

******
Namun tahukah anda kalau dari kecerdasan finansial, para wong ndeso ini kebanyakan lebih melek finansial dibandingkan dengan saudara-saudara mereka dari kota yang melabeli diri dengan sebutan kaum metropolis atau warga megapolitan?
Sekarang kita ambil satu contoh kasus dimana saya dapat pelajaran emas dari seorang yang benar-benar sangat ndeso sekali.

Saya punya saudara yang tinggal nun jauh di pelosok, saking terpencilnya tempat ini sampai-sampai listrik saja baru ada di era akhir 90-an, tepatnya di daerah pinggiran kawasan meru betiri.
Di rumah saudara ndeso saya ini, dia sempat menceritakan tentang sepeda motor barunya. Dia dengan bangga bercerita bahwa motornya baru dibeli dengan cash, tanpa kredit atau cicilan seperti kebanyakan yang dilakukan oleh orang kota. Karena bagaimana mau kredit kalau slip gaji saja tak pernah ada? Dia tidak pernah berpikir kalau di kawasan pramuka Jakarta banyak orang kota memalsukan slip gaji dan buku tabungan demi mulusnya aplikasi kredit motor/mobil mereka.

Saudara ndeso saya ini cerita kalau orang desa ingin beli motor mereka tidak kredit degan uang dp yang seadanya, tetapi mereka beli kambing atau anak sapi lebih dulu. Lha ini apa hubungannya beli sepeda motor dengan anak sapi?

Ini analisa finansialnya.
Asumsi orang kota dan wong ndeso sama sama punya modal Rp. 3 juta sebagai modal awal, dan mereka sama-sama bisa menyisihkan setiap bulan Rp. 500 ribu . Tantangannya mereka harus bisa membeli satu buah sepeda motor dengan kisaran harga 15 jutaan. Anda pasti bisa menebak pasti si orang kota teman kita ini pasti dengan mudahnya akan memakai modal awalnya untuk uang muka dan selebihnya dia akan mencicil dengan sisa-sisa gajinya itu, perkiraan nilai cicilannya Rp. 500 ribu - 700 ribuan, dan selama masa kredit motornya akan menjadi aset perusahaan finance pemberi kredit. Dan di akhir tahun ke tiga, motor tersebut sudah lunas. Simple dan tidak ribet kan?

Sekarang apa yang dilakukan wong ndeso seperti saudara saya di pelosok itu? Langkah pertama, dia akan beli anakan sapi yang kisaran harganya 2-3 jutaan. Dia akan pelihara sapi ini dengan penuh cinta dan kasih sayang, karena ini adalah aset dia sendiri yang akan berkembang. Dan setiap bulan dia akan beli anakan kambing dengan budget Rp. 500 ribuan. Jadi selama satu tahun berjalan dia sudah punya aset 1 ekor sapi dewasa dengan asumsi nilai jual 4-5 jutaan plus 11 ekor kambing dengan harga rata-rata nilai jual Rp. 650 ribuan. Jadi total asset dia sudah 5 juta + ( 650,000 * 11) = Rp. 12,150,000!! Ini belum termasuk aset jika kambing-kambing dan sapinya beranak.

Nah sampai disini, dalam jangka waktu satu tahun ke dua orang tadi di minta untuk menukarkan aset yang dimiliki dari modal awal plus tunjangannya per bulan. Kita dengan mudah menebak si teman metropolis tadi pasti nilai aset sepeda motornya sudah turun dan masih ada sisa cicilan 2 tahun di bank, jadi nilai asetnya bukan berkembang tapi malah turun. Tetapi si saudara ndeso tadi malah melenggang dengan asetnya yang sudah berkembang dan berlipat-lipat jika kambing-kambingnya bisa beranak. Sementara motor si teman kota tadi ga mungkin bisa beranak kan???
Jadi pilih mana mulai nyicil barang-barang konsumtif atau membangun asset dengan uang anda sekarang?

Investasi Besi Tua

Jika anda sekarang punya uang sisa, katakanlah ada 1 juta rupiah, entah itu dari bonus terakhir anda, hadiah, komisi penjualan, akan anda investasikan atau belanjakan kemana?
Bagi yang berpikiran konsumtif mungkin akan segera ke toko elektronik untuk ditukarkan dengan seperangkat mini mp4 player, atau digital camera, atau mungkin dengan handphone sederhana dengan fitur-fitur terbaru...
Pernahkah terpikir di benak anda untuk membelanjakan atau menukarkan uang anda dengan setumpuk besi tua?
Saya pernah punya pengalaman membelanjakan sisa uang saya dengan beberapa kuintal aluminium bekas.
Kebetulan ada salah seorang kustomer saya yang menawari untuk menampung limbah aluminium dari tempat di bekerja, meskipun jumlahnya tidak banyak, hanya beberapa kuintal saja. Waktu itu saya punya uang sisa di kantong kira-kira 3,2 jt an. Waktu itu saya bisa dapat harga aluminum bekas seharga Rp. 16,000,- sekilo, jadi saya total dapat 2 kuintal / 200 kg aluminium. Saya hanya dapat gambaran harga jual aluminium di lapak besi tua berkisar antara Rp. 20 ribuan.
Besi tua itu hanya saya tumpuk saja selama beberapa hari, tanpa saya usahakan untuk di jual. Tentu apa yang saya lakukan mengundang sedikit pertanyaan dari istri saya.
Beberapa orang sudah ada yang menawar dengan selisih 1-2 ribu saja dari harga beli saya, tapi belum saya lepas karena memang belum terlalu perlu uang cash.
Tetapi pada saat masa pendaftaran sekolah tiba, tentu saya perlu uang cash saat itu dan saya mulai tawar-tawarkan ke beberapa kenalan yang mau ambil alumnium bekas tersebut. Saya sengaja tidak menawarkan sendiri ke lapak-lapak besi tua karena ga mau terlalu repot. Tawaran terakhir jatuh ke seorang teman yang mau menampung dengan harga Rp. 19,500 per kilo. Saya tahu harga itu masih kurang bagus, tetapi toh karena teman sendiri yang mau beli jadilah saya lepas dengan harga tersebut. Jadi total pembelian Rp. 3,900,000,-
Nah dalam sekian hari saja, tanpa usaha terlalu keras saya bisa dapat profit Rp. 700,000 atau 21% dari modal awal saya. Lumayan kan?
Coba bandingkan dengan kalau uang Rp. 3,2 juta anda ditukar dengan handphone terbaru, dan anda jual handphone tersebut beberapa hari kemudian, pasti nilai tukarnya sudah menurun beberapa ratus ribu.
Dari hal iseng menampung besi tua tersebut baru saya ngeh kenapa banyak lapak besi tua tumbuh subur di sekitar kita terutama di lingkungan industri dan pabrik.
Yang penting tetap pegang prinsip buy low - sell high....
Nah ada yang mulai mau nimbang besi tua???

makan siang di Lido bareng hamzah.